Senin, 27 Januari 2025

TUNTUNAN SHALAT BA’DIYAH JUMAT






DIRANGKUM OLEH : m. busrowi abdulmannan

I. SHALAT SUNNAT BA’DIYAH JUMAT BISA DILAKSANAKAN DUA CARA :

A. DI MASJID,
1. Jumlahnya 4 rakaat , dengan dua rakaat salam
2. Setelah dzikir dan doa , kemudian pindah tempat untuk shalat ba’diyah jumat

B. DI RUMAH, SEGERA SETELAH SELESAI IBADAH JUMAT
1. Jumlah rakaatnya 2
2. Pahalanya 25 kali yang dilakukan di masjid
3. Begitu sampai rumah, langsung menuju tempat shalat. Untuk shalat ba’diyah jumat

III. DALIL DALIL
1. Memisah Antara Shalat Jum’at dan Shalat Ba’diyah
Jika seseorang melakukan shalat ba’diyah Jum’at di masjid, maka diperintahkan ia memisah antara shalat wajib dan shalat sunnah dengan berbicara atau berpindah tempat.
Berdasarkan hadits As Saa-ib bin Yazid bahwa Mu’awiyyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepadanya, “Apabila engkau telah shalat Jum’at, janganlah engkau sambung dengan shalat lain sebelum engkau berbicara atau pindah dari tempat shalat. Demikianlah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan pada kami. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْ لاَ تُوصَلَ صَلاَةٌ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ
“Janganlah menyambung satu shalat dengan shalat yang lain, sebelum kita berbicara atau pindah dari tempat shalat”. (HR. Muslim no. 883)
2. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا
“Jika salah seorang di antara kalian shalat Jum’at, maka lakukanlah shalat setelahnya empat raka’at.” (HR. Muslim no. 881)
3. Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan dari Ibnu ‘Umar,

أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى الْجُمُعَةَ انْصَرَفَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْنَعُ ذَلِكَ

“Jika Ibnu ‘Umar melaksanakan shalat Jum’at, setelahnya ia melaksanakan shalat dua raka’at di rumahnya. Lalu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan seperti itu.” (HR. Muslim no. 882)
4. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ ، فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ في بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوبَةَ
“Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781).
5. diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan tentang contoh perbuatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ، وَبَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ، وَبَعْدَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ، وَبَعْدَ العِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ، وَكَانَ لاَ يُصَلِّي بَعْدَ الجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan dua rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah maghrib di rumahnya, dan dua rakaat sesudah ‘isya. Dan beliau tidak mengerjakan shalat setelah shalat Jum’at hingga beliau pulang, lalu shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari no. 937)
6. Di hadits yang lain, Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ الظُّهْرِ سَجْدَتَيْنِ، وَبَعْدَهَا سَجْدَتَيْنِ، وَبَعْدَ الْمَغْرِبِ سَجْدَتَيْنِ، وَبَعْدَ الْعِشَاءِ سَجْدَتَيْنِ، وَبَعْدَ الْجُمُعَةِ سَجْدَتَيْنِ، فَأَمَّا الْمَغْرِبُ، وَالْعِشَاءُ، وَالْجُمُعَةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِهِ
“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua raka’at sebelum zhuhur dan dua raka’at setelahnya, dan dua raka’at setelah maghrib dan dua raka’at setelah isya`, dan dua raka’at setelah shalat Jum’at. Adapun (sunnah) maghrib, ‘isya, dan jumat, aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya.” (HR. Muslim no. 729)
7. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺼَﻠَﺎﺓِ ﻓِﻲْ ﺑُﻴُﻮْﺗِﻜُﻢْ ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺻَﻠَﺎﺓِ ﺍﻟﻤَﺮْﺀِ ﻓِﻲْ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﺇﻟَّﺎ ﺍﻟﺼَﻠَﺎﺓَ ﺍﻟﻤَﻜْﺘُﻮْﺑَﺔَ
“Hendaknya kalian mengerjakan salat di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik salat seseorang adalah di rumahnya, kecuali salat wajib (fardhu)”. HR Al-Bukhari no.5672 dan Muslim no. 781
8. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلَاةُ الرَّجُلِ تَطَوُّعًا حَيْثُ لَا يَرَاهُ النَّاسُ تَعْدِلُ صَلَاتَهُ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ
Shalat sunah yang dikerjakan seseorang di tempat yang tidak dilihat orang lain, senilai 25 kali derajat shalat sunah yang dia kerjakan di tengah banyak orang” HR. Abu Ya’la dan dishahihkan Al-Albani

9. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻻَﺗَﺠْﻌَﻠُﻮْﺍ ﺑَﻴُﻮْﺗَﻜُﻢْ ﻣَﻘَﺎﺑِﺮَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸَﻴْﻄَﺎﻥَ ﻳَﻨْﻔِﺮُ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺒَﻴْﺖِ ﺍﻟَﺬِﻱ ﺗُﻘْﺮَﺃُ ﻓِﻴْﻪِ ﺳُﻮْﺭَﺓَ ﺍﻟﺒَﻘَﺮَﺓِ
“ Janganlah kamu menjadikan rumahmu (seperti) kuburan (dengan tidak pernah mengerjakan salat dan membaca al-Qur’an di dalamnya). Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah. HR. Muslim
10. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ زَيْدٍ بْنِ ثَابِتٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ ، فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ في بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوبَةَ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781]
11. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( اِجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ ، وَلاَ تَتَّخِذُوْهَا قُبُوْراً )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
12. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadikanlah shalat kalian di rumah kalian, dan janganlah kalian menjadikan rumah kalian seperti kuburan.” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 432 dan Muslim, no. 777]
13. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata , Rasulullah saw bersabda,
وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا قَضَى أحَدُكُمْ صَلاَتَهُ فِي مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيباً مِنْ صَلاَتِهِ ؛ فَإنَّ اللهَ جَاعِلٌ في بَيْتِهِ مِنْ صَلاَتِهِ خَيْراً )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
“Apabila salah seorang di antara kalian telah melakukan shalatnya di masjid, maka jadikanlah untuk rumahnya bagian dari shalatnya. Karena Allah menjadikan kebaikan di rumahnya dari shalatnya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 778]
14. ‘Umar bin Al-Khaththab pernah mengatakan,
صَلاَةُ المَرْءِ فِى بَيْتِهِ نُوْرٌ فَنَوِّرُوْا بُيُوْتَكُمْ
“Shalat seseorang di rumahnya adalah cahaya,maka hiasilah rumah kalian dengannya.” (Syarh Al-Bukhari, Ibnu Baththal, 5:191, Asy-Syamilah)
15. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ، أَوْ يَتَأَخَّرَ، أَوْ عَنْ يَمِينِهِ، أَوْ عَنْ شِمَالِهِ فِي الصَّلَاةِ، يَعْنِي فِي السُّبْحَةِ
“Apakah kalian tidak mampu untuk maju atau mundur, atau geser ke kanan atau ke kiri ketika shalat.” Maksud beliau: “shalat sunah”. [HR. Abu Daud & Ibnu Majah, dishahihkan al-Albani]
16. diriwayatkan oleh As-Saaib bin Yaziid beliau berkata :
صَلَّيْتُ مَعَهُ الْجُمُعَةَ فِي الْمَقْصُورَةِ، فَلَمَّا سَلَّمَ الْإِمَامُ قُمْتُ فِي مَقَامِي، فَصَلَّيْتُ، فَلَمَّا دَخَلَ أَرْسَلَ إِلَيَّ، فَقَالَ: «لَا تَعُدْ لِمَا فَعَلْتَ، إِذَا صَلَّيْتَ الْجُمُعَةَ، فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ حَتَّى تَكَلَّمَ أَوْ تَخْرُجَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذَلِكَ، أَنْ لَا تُوصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ»
“Aku pernah shalat Jum’at bersama Mu’awiyah di dalam Maqshurah (suatu ruangan yang dibangun di dalam masjid). Setelah imam salam aku berdiri di tempatku kemudian aku menunaikan shalat sunnah. Ketika Mu’awiyah masuk, ia mengutus seseorang kepadaku dan utusan itu mengatakan, ‘Jangan kamu ulangi perbuatanmu tadi. Jika kamu telah selesai mengerjakan shalat Jum’at, janganlah kamu sambung dengan shalat sunnah sebelum kamu berbincang-bincang atau sebelum kamu keluar dari masjid. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan hal itu kepada kita yaitu ‘Janganlah suatu shalat disambung dengan shalat lain, kecuali setelah kita berbicara atau keluar dari Masjid”. H.R. Muslim, No.883, Abu Dawud No.1129, Ahmad No.16866
17. Demikian juga riwayat dari dari Nafi bin Jubair, beliau langsung shalat sunnah setelah shalat Jumat. Kemudian Muawiyah berkata kepada beliau,
لَا تَعُدْ لِمَا صَنَعْتَ، إِذَا صَلَّيْتَ الْجُمُعَةَ، فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ حَتَّى تَكَلَّمَ، أَوْ تَخْرُجَ، فَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِذَلِكَ، أَنْ «لَا تُوصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى يَتَكَلَّمَ أَوْ يَخْرُجَ»
“Jangan kau ulangi perbuatan tadi. Jika kamu selesai shalat Jumat, jangan disambung dengan shalat yang lainnya, sampai berbicara atau keluar masjid. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu. Beliau bersabda:“Jangan kalian sambung shalat wajib dengan shalat sunah, sampai kalian bicara atau keluar/pindah.” [HR. Muslim & Abu Daud]
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” QS. Az-Zalzalah: 4
18. Beberapa sahabat juga memerintahkan agar pindah dari tempat shalat wajibnya. Ibnu Umar berkata,
لَا يَتَطَوَّعُ حَتَّى يَتَحَوَّلَ مِنْ مَكَانِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ الْفَرِيضَةَ
“Hendaknya tidak melakukan shalat sunah, sampai berpindah dari tempat yang digunakan untuk shalat wajib.” [HR. Ibnu Abi Syaibah]
19. Dari Zaid bin Tsabit riwayat An-Nasaa-i
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةَ
bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia , sholatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena shalat seseorang yang paling afdhal (lebih utama) itu dikerjakan di rumahnya, kecuali shalat fardhu.”
20. Dari Jabir bin ‘Abdullah riwayat imam Muslim
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلَاتِهِ فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ خَيْرًا
ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bila seseorang dari kalian selesai shalat di masjid, hendaknya ia menjadikan sebagian shalat di rumahnya, sebab Allah menjadikan kebaikan dari shalatnya di rumahnya.” (Hadits SHOHIH, diriwayatkan oleh imam Muslim no. 778).
21. Dari Abu Musa riwayat Al-Bukhari
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ وَالَّذِي لَا يُذْكَرُ اللهُ قِيْهِ كَمَثَلِ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya, seperti perumpamaan orang hidup dan orang mati.” (Hadits Shahih, diriwayatkan Al-Bukhari nomor.6407).
22. Abdullah bin Sa’ad riwayat Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Majah
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: أَيُّمَا أَفْضَلُا لصَّلَاةُ فِي بَيْتِي أَوْ الصَّلَاةُ فِي الْمَسْجِدِ؟ قَالَ: أَلَا تَرَى إِلَى بَيْتِيْ مَا أَقْرَبُهُ مِنَ الْمَسْجِدِ, فَلِأَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُصَلِّيَ فِي الْمَسْجِدِ, إِلَّا أَنْ تَكُوْنَ صَلَاةٌ مَكْتُوْبَةٌ
Abdullah bin Sa’id berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, “Mana yang lebih utama; shalat di rumahku atau shalat di masjid?” Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidakkah kamu lihat rumahku? Betapa dekatnya ia dari masjid. Sungguh aku shalat (sunnah) di rumahku lebih aku sukai daripada shalat di masjid, kecuali shalat yang diwajibkan.” (Diriwayatkan Ahmad (IV/342), Ibnu Khuzaimah (II/210), Ibnu Majah (8731) dan ditakhrij Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (1133).)


HANYA UNTUK KALANGAN

SENGAJA LEWAT DI TEMPAT SUJUD/ DI DEPAN ORANG SHALAT, SEJATINYA ADALAH SETAN



Dinuqil : mbah Bus

Berdasarkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah (bdi tempat ia sujud) terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari 509, Muslim 505)

KETERANGAN : *Sutrah (benda pembatas di tempat ia sujud), bisa garis ujung tikar/karpet), bisa benda lain misal pulpen, hp, kacamata, tasbeh yang diletakkan di tempat sujud*

Juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

“Janganlah shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia enggan dilarang, maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan)” 
(HR. Ibnu Khuzaimah 800, 820, 841. Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi (115) mengatakan bahwa sanadnya jayyid, ashl hadist ini terdapat dalam Shahih Muslim

hadits dari Abu Juhaim Al Anshari, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِنَ الإِْثْمِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Andaikan seseorang yang lewat di depan orang yang shalat itu mengetahui dosanya perbuatan itu, niscaya diam berdiri selama 40 tahun itu lebih baik baginya dari pada lewat” (HR. Al Bukhari 510, Muslim 507)

TUNTUNAN SHALAT JAMA’ DAN SHALAT QASHAR



I. DALIL
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا (١٠١
4/101.dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang (mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Mengqashar shalat ini pada awalnya karena bepergian terutama dalam memerangi orang orang kafir. Kemudian menjadi tuntunan orang-orang sudah dalam keadaan aman.
‘Umar berkata, “Dulu, aku juga bingung dengan masalah ini sebagaimana kamu.Lalu aku menanyakannya pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lantas beliau bersabda:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمْ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمْ الْعُسْرَ 

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. [alBaqarah/ 2:185]

sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ، فَاقْبَلُوْا صَدَقَتَهُ.
“Ituadalahshadaqahdari Allah untuk kalian.Maka, terimalahshadaqah-Nya.”

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘an huma, dia berkata, “Melalui lisan Nabi kalian, Allah mewajibkan shalat empat raka’at dalam keadaan mukim, dua raka’at ketika safar, dan satu raka’at ketika dalam keadaan takut.” [2]
Dari ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Shalat dalam safar dua raka’at, shalat Jum’at dua raka’at, shalat Idul Fithri dan Idul Adh-ha dua raka’at., sempurna, tidak diqashar. Berdasarkan ucapan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.”
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Alloh mencintai jika rukhsoh-Nya dilaksanakan sebagaimana Dia membenci jika kemaksiatan dikerjakan.” (HR. Ahmad. Dishohihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arna’ut)

JIKA TIDAK BEPERGIAN (MUKIM) 
HANYA DIBOLEHKAN MENJAMA’ SAJA , TIDAK BOLEH MENGQASHAR
1. Menjama’ shalat dituntunkan ketika :
a. Sedang sakit
b. Sedang shalat duhur atau maghrib , kemudian hujan
c. Sedang keperluan yang mendesak, yang mengakibatkan sulit untuk shalat tepat waktu, misal penataran, sedang hajatan pernikahan, menunggu orang sakit, petani ngawu awu, ada anggota keluarga yang wafat, dll
2. Caranya
a. Menjamak dhuhur dan ‘ashar
- Dhuhur 4 rakaat dan ashar 4 rakaat dilakukan pada waktu dhuhur, disebut jama’ taqdim
Caranya dhuhur dulu , baru ‘ashar
- Atau Dhuhur 4 rakaat dan ashar 4 rakaat dilakukan pada waktu ‘Ashar, disebut jama’ ta’khir
Caranya dhuhur dulu , baru ‘ashar. Jangan ‘ashar dulu baru dhuhur
b. Maghrib dan ‘Isya’
- Maghrib 3 rakaat dan ‘isyak 4 rakaat dilakukan pada waktu maghrib, disebut jama’ ta’khir
Caranya maghrib dulu baru ‘Isyak
- Atau Maghrib 3 rakaat dan ‘isyak 4 rakaat dilakukan pada waktu ‘isyak, disebut jama’ ta’khir
Caranya maghrib dulu baru ‘Isyak. Jangan ‘isyak dulu baru maghrib

JIKA DALAM BEPERGIAN ( MUSAFIR) 
ATAU TINGGAL BEBERAPA HARI DI SUATU DAERAH ( MUWATHIN) 
DIBOLEHKAN MENGQASHAR DAN MENJAMA’

1. Jika bepergian , dalam melakukannya boleh memilih :
a. bisa melakukan shalat dalam keadaan biasa dan tepat waktu (ada’an).
b. Atau menjama’ saja ( menggabung dua waktu shalat, dhuhur+ashar dan maghrib+isya’ )
c. Atau mengqashar saja ( meringkas rakaat yang empat rakaat menjadi dua rakaat )
2. Namun dianjurkan memilih qashar atau jama’ qashar, karena Allah lebih berkenan jika musafir melakukan qashar atau jama’ qashar . 
3. Jarak tempuh orang yang bepergian, tidak ditentukan dalam hadits. Asal sudah bepergian ( lain dengan hanya pergi ) maka boleh jama’ dan qashar
4. Demikian juga berapa hari lama bepergian (musafir) dan berapa hari tinggal di tempat tujuan (muwathin), tidak ditentukan dalam hadits

SEBAIKNYA QASHAR SAJA
Yaitu melakukan lima waktu shalat tepat waktu, namu dhuhur, ashar dan isya’ hanya dua rakaat
Tuntunan melakukan shalat qashar, jama’ atau jama’ dan qashar:
a. Diusahakan tepat waktu
b. Jangan melakukan shalat sunnat rawatib qabliyah dan ba’diyah
c. Jangan melakukan dzikir dan doa sesudahnya
Jama’ taqdim :
d. Sebaiknya diawali dengan iqamat , walaupun dilakukan sendiri (munfarid) apalagi berjama’ah, 

BOLEH JAMA’ SAJA
Tuntunan melakukan shalat jama’:
a. Shalat yang boleh dijama’ ialah dhuhur dengan ashar. Dan maghrib dengan ‘isyak
b. Dilakukan pada waktu duhur atau maghrib, disebut jama’ taqdim
c. Dilakukan pada waktu as’ar atau ‘isyak disebut jama’ ta’khir
d. Jangan melakukan shalat sunnat rawatib qabliyah dan ba’diyah
e. Jangan melakukan dzikir dan doa sesudahnya
f. Sebaiknya diawali dengan iqamat , walaupun dilakukan sendiri (munfarid) apalagi berjama’ah, 

DHUHUR DAN ‘ASHAR
Jama’ taqdim :
Dilakukan pada waktu dhuhur, 
shalat Dhuhur dulu 4 rakaat , baru ashar 4 rakaat 
Jama’ ta’khir
Dilakukan pada waktu ‘Ashar, 
Shalat dhuhur dulu 4 rakaat, baru ‘ashar 4 rakaat. 
Jangan ‘ashar dulu baru dhuhur

MAGHRIB DAN ‘ISYAK
Caranya :
Jama’ taqdim :
Dilakukan pada waktu Maghrib 
shalat Maghrib dulu 3 rakaat , baru ‘isyak 4 rakaat 

Jama’ ta’khir
Dilakukan pada waktu ‘Isyak, 
Shalat Maghrib dulu 3 rakaat, baru ‘Isyak 4 rakaat. 
Jangan ‘aIsyak dulu baru Maghrib
BOLEH JAMA’ DAN QASHAR
Tuntunan melakukan jama’ dan qashar
a. Shalat yang boleh dijama’ dan diqashar ialah dhuhur dengan ashar. Dan maghrib dengan ‘isyak
b. Dilakukan pada waktu duhur atau maghrib, disebut jama’ taqdim qashar
c. Dilakukan pada waktu ‘ashar atau ‘isyak disebut jama’ ta’khir qashar
d. Jangan melakukan shalat sunnat rawatib qabliyah dan ba’diyah
e. Jangan melakukan dzikir dan doa sesudahnya
f. Sebaiknya diawali dengan iqamat , walaupun dilakukan sendiri (munfarid) apalagi berjama’ah, 
g. Caranya :
DHUHUR DAN ASHAR 
Jama’ Taqdim Qashar :
dilakukan pada waktu dhuhur, Dhuhur dulu 2 rakaat baru ashar 2 rakaat 
Jama’ Ta’khir Qashar :
dilakukan pada waktu ‘Ashar :
Dhuhur dulu 2 rakaat baru ashar 2 rakaat . Jangan ‘ashar dulu baru dhuhur 

MAGHRIB DAN ‘ISYAK
Jama’ Taqdim Qashar :
dilakukan pada waktu maghrib , Maghrib dulu 3 rakaat baru ‘isyak 2 rakaat 
Jama’ Ta’khir Qashar :
dilakukan pada waktu ‘isyak , Maghrib dulu baru I’syak. Maghrib 3 rakaat dan ‘isyak 2 rakaat . Jangan ‘Isya’ dulu baru maghrib

Dalam kondisi yang sangat tertentu, bagi yang sakit dan keperluan mendesak/darurat, yang dibaca boleh yang rukun / wajib saja, 
caranya :
a. Dimulai Gerak dan bacaanTakbirotul ihram
b. Bacaan Al fatehah
Boleh tidak membaca doa iftitah dan ta’awudz, sebelum al fatehah
Dan boleh tidak membaca surat / ayat Al Qur’an sesudah bacaan Amin
c. Gerak rukuk
Boleh tidak membaca bacaan rukuk
d. GerakI’tidal
Boleh tidak membaca bacaan I’tidal
e. Gerak sujud
Boelh tidak membaca bacaan sujud
f. Gerak duduk Antara dua sujud
Boleh tidak membaca bacaan duduk antara dua sujud
g. Gerak dan bacaan tahiyat awal / akhir
Bacaan hanya sampai INNAKA HAMIIDUM MAJIID, boleh tidak membaca doa ALLOOHUMMA INNI A’UDZUBIKA sd MASIHID DAJJAL
h. Gerak dan bacaan salam

HANYA UNTUK KALANGAN SENDIRI
By: Muhammad busyrowi abdulmannan

DALIL SHALAT JAMA' KARENA HUJAN



Dinuqil : mbah (Busyrowi)

Dari Ibnu ’Abbas, beliau mengatakan,

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ

”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya di Madinah bukan karena keadaan takut dan bukan pula karena hujan.”

Dalam riwayat Waki’, ia berkata, ”Aku bertanya pada Ibnu ’Abbas mengapa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan seperti itu (menjama’ shalat)?” Ibnu ’Abbas menjawab, ”Beliau melakukan seperti itu agar tidak memberatkan umatnya.”

Dalam riwayat Mu’awiyah, ada yang berkata pada Ibnu ’Abbas, ”Apa yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam inginkan dengan melakukan seperti itu (menjama’ shalat)?” Ibnu ’Abbas menjawab, ”Beliau ingin tidak memberatkan umatnya.”

Syaikh Al Albani mengatakan, ”Perkataan Ibnu ’Abbas ”bukan karena keadaan takut dan bukan pula karena hujan”, ini pertanda bahwa menjama’ shalat ketika hujan sudah dikenal di masa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Seandainya bukan demikian, lantas apa faedahnya udzur hujan ditiadakan dalam perkataan beliau tersebut sebagaimana udzur-udzur menjama’ shalat lainnya. Renungkanlah!”

Dari Abu Az Zubair, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, beliau berkata,

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ

”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat Dzuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ secara jama’, bukan dalam keadaan takut maupun safar.”
Yang meriwayatkan dari Abu Az Zubair adalah Imam Malik dalam Muwatho’nya. Imam Malik mengatakan, ”Aku menyangka bahwa menjama’ di sini adalah ketika hujan.”

Al Baihaqi mengatakan, ”Begitu pula hadits ini diriwayatkan oleh Zuhair bin Mu’awiyah dan Hammad bin Salamah, dari Abu Az Zubair, juga dikatakan, ”(Beliau menjama’) bukan karena keadaan takut dan bukan pula karena safar. Akan tetapi dalam riwayat tersebut tidak disebutkan shalat Maghrib dan ’Isya dan hanya disebut jama’ tersebut dilakukan di Madinah.” 
 Artinya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan jama’ ketika mukim (tidak bepergian) dalam kondisi hujan.

Imam Malik dalam Al Muwatho’ mengatakan dari Nafi’,

أَنَّ اِبْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا جَمَعَ الأُمَرَاءُ بَيْنَ المَغْرِبِ وَالعِشَاء ِفِي المَطَرِ جَمَعَ مَعَهُمْ

”Apabila para amir (imam shalat) menjama’ shalat Maghrib dan Isya’ ketika hujan, Ibnu ’Umar ikut menjama’ shalat bersama mereka.”
Ini berarti Ibnu ’Umar menyetujui perbuatan menjama’ shalat ketika hujan.

Hisam bin Urwah mengatakan bahwa:

أَنَّ أَبَاهُ عُرْوَةَ وَسَعِيْدَ بْنَ المُسَيَّبَ وَأَبَا بَكْرٍ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنَ الحَارِثِ بْنَ هِشَام بْنَ المُغِيْرَةَ المَخْزُوْمِي كَانُوْا يَجْمَعُوْنَ بَيْنَ المَغْرِبِ وَالعِشَاءِ فِي اللَّيْلَةِ المَطِيْرَةِ إِذَا جَمَعُوْا بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ وَلاَ يُنْكِرُوْنَ ذَلِكَ

”Sesungguhnya ayahnya (Urwah), Sa’id bin Al Musayyib, dan Abu Bakar bin Abdur Rahman bin Al Harits bin Hisyam bin Al Mughiroh Al Makhzumi biasa menjama’ shalat Maghrib dan Isya’ pada malam yang hujan apabila imam menjama’nya. Dan mereka tidak mengingkari hal tersebut.”


Dari Musa bin Uqbah,

أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ العَزِيْزِ كَانَ يَجْمَعُ بَيْنَ المَغْرِبِ وَالعِشَاءِ الآخِرَةِ إِذَا كَانَ المَطَرُ وَأَنَّ سَعِيْدَ بْنَ المُسَيِّبِ وَعُرْوَةَ ابْنَ الزُبَيْرِ وَأبَا بَكْرٍ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَمَشَيْخَةَ ذَلِكَ الزَمَانِ كَانُوْا يُصَلُّوْنَ مَعَهُمْ وَلاَ يُنْكِرُوْنَ ذَلِكَ

”Sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz biasa menjama’ shalat Maghrib dan Isya’ ketika hujan. Dan Sa’id bin Al Musayyib, ’Urwah bin Az Zubair, Abu Bakr bin Abdur Rahman, dan para ulama ketika itu, mereka shalat bersama para amir (baca: imam shalat) dan mereka tidak mengingkarinya.”

Syaikh Al Albani mengatakan, ”Dua dalil di atas menunjukkan bahwa menjama’ shalat karena hujan sudah sering dilakukan di tengah-tengah para salaf.”

DALIL TIDAK ADA DZIKIR SESUDAH SHALAT FARDHU KETIKA QASHAR ATAU JAMAK

m. busyrowi abdulmannan

1. Tidak ada dalil yang menerangkan bahwa Rasulullah saw dzikir setelah shalat jama’ qoshor ketika safar. 

Sedangkan qaidah menyebutkan “menetapkan suatu hukum itu dituntut adanya dalil”

*Dikarenakan tidak ada dalil yang menerangkan hal tersebut, maka tidak ada dzikir dan doa setelah shalat jama’, shalat qoshor*

2. Dalam praktek shalat yang dijamak-qoshor setelah shalat yang pertama tidak dilakukan dzikir, tetapi langsung dilanjutkan shalat yang kedua. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam shalat safar tidak ada dzikir setelahnya.

3. Ada beberapa hadits yang mengindikasikan tidak adanya dzikir setelah shalat fardu ketika safar, yaitu sebagai berikut :

عبد الله بن عمر – رضي الله عنهما – :«أن رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- صلَّى المغربَ والعشاءَ بالمزدلفة جميعا» زاد البخاري في رواية «كلَّ واحدة منهما بإقامة ، ولم يُسبِّحْ بينهما ، ولا على إثر واحدة منهما». (رواه البخاري و مسلم و الدارقطنى و أبوداود و الترمذى والنسائى)
Dari Abdullah bin Umar ra. Sesungguhnya Rasulullah saw shalat maghrib dan ‘isya dijama’ di Muzdalifah. Ada tambahan pada riwayat Al-Bukhari, Masing-masing dari keduanya dengan satukali iqomah dan tidak bertasbih antara keduanya dan juga pada salah satu dari keduanya. (HR Al-Bukhari, Muslim, Ad-Daraquthni, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)

عن عبد الله بن عمر – رضي الله عنهما – : قال : «صحبتُ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- ، فلم أرَه يُسبِّح في السَّفرِ ، وقال الله تعالي : { لَقَد كانَ لكُم فِي رَسُولِ الله أُسْوة حسنة } [ الأحزاب : 21]». رواه البخاري و مسلم
Dari Abdullah bin Umar ra. Ia berkata: Saya menyertai Nabi saw, maka tidak pernah melihat beliau bertasbih ketika safar, Allah swt berfirman : ((Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik)) QS. Al-Ahzab :21)
(HR Al-Bukhari dan Muslim)

عن يزيد بن زريع قال مرضت فجاءني ابن عمر يعودني فسألته عن السبحة في السفر فقال صحبت رسول الله {صلى الله عليه وسلم} في السفر فما رأيته يسبح ولو كنت مسبحاً لأتممت. رواه البخاري و مسلم
Dari Yazid bin Zurai’ ia berkata: saya pernah sakit lalu Ibdu Umar datang menjengukku, saya bertanya kepadanya tentang subhah ketika safar lalu beliau menjawab, “Saya menyertai Rasulullah saw pada saat safar, maka tidak pernah melihat beliau bertasbih, kalaulah saya mau bertasbih pasti saya sempurnakan shalat (tidak qashar). (HR Al-Bukhari dan Muslim)

JIKA MUSAFIR SINGGAH DI SUATU MASJID, BERTEPATAN WAKTU SHALAT WAJIB MAKA SEBAIKNYA YANG JADI IMAM DARI MUSAFIRIN, BUKAN MUKIMIN



Dinuqil, mbah Bus

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa pada saat melakukan safar, Rasulullah-lah yang menjadi imam bagi jamaah yang mukim.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَهِدْتُ مَعَهُ الْفَتْحَ فَأَقَامَ بِمَكَّةَ ثَمَانِي عَشْرَةَ لَيْلَةً لَا يُصَلِّي إِلَّا رَكْعَتَيْنِ وَيَقُولُ يَا أَهْلَ الْبَلَدِ صَلُّوا أَرْبَعًا فَإِنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ [رواه أبو داود].

“Dari ‘Imran bin Hushain (diriwayatkan) dia berkata; Aku berperang bersama Rasulullah saw, dan aku juga menyaksikan bersama beliau ketika pembebasan kota Makkah (FAT HU MAKKAH), beliau bermukim di Makkah selama delapan belas hari, dan beliau mengerjakan shalat tepat waktu, namun diqashar dua rakaat, lalu beliau bersabda: Wahai para penduduk (asli/mukimin), shalatlah kalian empat rakaat, sebab kami ini adalah para musafir” [HR. Abu Dawud No. 1040].

Pelaksanaannya, waktu dhuhur :

1. Musafirin sudah menetap/tinggal selama satu hari atau lebih.
Maka disunnahkan, qashar saja dan Ada an/tepat waktu

CARANYA,
Musafirin mengimami shalat dhuhur dua rakaat, setelah salam diikuti makmum musafirin,
Makmum mukimin tidak ikut salam , langsung berdiri untuk menyempurakan empat rakaat

2. Musafirin hanya singgah untuk shalat dan segera meneruskan perjalanan

CARANYA,
Imam dari musafirin, mengimami dhur 2 rakkat kemudian salam diikuti makmum musafirin
Makmum mukimin tidak ikut salam , langsung berdiri untuk menyempurakan empat rakaat.
Salah satu musafirin iqamah, imam musafirin tanpa berpindah tempat , mengimami makmum musafirin shalat ashar, 2 rakaat

SESERING MUNGKIN MENDOAKAN KERABAT, TEMANTANPA DIKETAHUI KERABAT, TEMAN YANG DIDOAKAN



Dinuqil : mbah Bus(yrowi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.’” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lainnya,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.’

riwayat dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Istri beliau, Ummu Darda’ menceritakan,

كان لأبي الدرداء ستون وثلاث مئة خليل في الله يدعو لهم في الصلاة، فقلت له في ذلك، فقال : إنه ليس رجل يدعو لأخيه في الغيب إلا وكل الله به ملكين يقولان : « ولك بمثل » أفلا أرغب أن تدعو لي الملائكة

‘Dahulu Abu Darda’ memiliki sekitar 300 orang sahabat (pertemanan di dalam ketaatan). Di dalam shalatnya, Abu Darda’ seringkali mendoakan mereka. Aku pun berkata kepadanya tentang apa yang dia lakukan.’

Maka dia pun berkata, ‘Sesungguhnya tidaklah seseorang mendoakan bagi saudaranya tanpa sepengetahuanya, kecuali Allah mengutus denganya dua malaikat, yang keduanya akan mengatakan, ‘Begitu juga denganmu.’ Apakah aku tidak boleh mendambakan malaikat mendoakanku?’” (Siyar A’lamin Nubala’, 2: 351)

Dalam hadits disebutkan bahwa malaikat ikut mendoakan bagi yang berdoa. Para ulama mejelaskan bahwa doa malaikat itu mustajab.

Abul Hasan Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

دعاء الملائكة مستجاب

“Doa para malaikat itu mustajab.” (Mura’atul Mafatih, 5: 309)
muslim.or.id